Sunday, November 14, 2010

BUANG BEBAN YANG ADA

Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid- muridnya untuk membawa satu kantung plastik ke sekolah. 
  
Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang ke dalamnya. Setiap anak diminta untuk memasukkan sebiji kentang bagi setiap orang yang tidak mahu mereka maafkan. Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tarikh didalam nya. 

 Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan bebab. Mereka diminta untuk membawa kantung jernih itu siang dan malam kemana sahaja mereka pergi harus mereka baw, selamat satu minggu penuh. Kantung itu harus ada di sisi mereka kala tidur, diletakkan di meja saat belajar dan di bawa saat berjalan. Lama kelamaan keaadan kentang itu makin tidak menentu. Banyak dari kentang ituu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang busuk. Hampir semua anak mengeluh dengan tugasan ini. Dan akhirnya, waktu satu minggu itu selesai. Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannnya terus menerus. Suka- duka saat membawa- bawa kantung yang berat akan menjelaskan pada mereka bahawa membawa beban itu sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. 

  

 Memaafkan sebenarnya adalah pekerjaan yang lebih mudah daripada membawa semua beban itu kemana sahaja kaki kita melangkah. Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus, getir, berat dan meruapkan aroma yang tidak enak bole terjadi. 
Itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian. 

 Sering kita berfikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar bahawa pemberian itu adalah juga hadiah buat diri kita sendiri . Hadiah, untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah serta kedegilan hati...

No comments:

Post a Comment